Rosihan Anwar, Pasien Gagal Ginjal Kronis

pasien gagal ginjal

pasien gagal ginjal

Sambung Halaman – ……….. Karena kondisinya yang semakin memburuk, Anwar kemudian dilarikan ke ruang UGD Rumah Sakit Harapan Bunda Jakarta untuk mendapatkan penanganan dan kejelasan diagnosa. “Sudah hampir sebulan kondisinya tidak juga membaik, malahan semakin parah. Saat itu pun kami tidak curiga kalau bapak menderita penyakit gagal ginjal. Yang kami takutkan hanyalah terjadi pendarahan di organ dalam tubuhnya. Karena HB-nya waktu itu sudah turun sampai 4,” ujar Yanti Marlina, istri Rosihan Anwar

Setibanya di RS. Harapan Bunda, Anwar langsung menjalani tes darah untuk mengetahui penyakit yang dideritanya, termasuk juga pemeriksaan kreatinin dalam darah sebagai parameter penting untuk mengetahui fungsi ginjal. Dari hasil pemeriksaan tersebut, akhirnya diketahui kalau Anwar menderita gagal ginjal kronis stadium lanjut.

Setibanya di RS. Harapan Bunda, Anwar langsung menjalani tes darah untuk mengetahui penyakit yang dideritanya, termasuk juga pemeriksaan kreatinin dalam darah sebagai parameter penting untuk mengetahui fungsi ginjal. Dari hasil pemeriksaan tersebut, akhirnya diketahui kalau Anwar menderita gagal ginjal kronis stadium lanjut.

“Mendengar hasil diagnosa itu, saya seperti dilempar granat. Kaget, takut, bingung, semua perasaan campur aduk,” ungkap Anwar.

Perasaan yang muncul tersebut memang sangat wajar. Karena seperti halnya kanker, penyakit gagal ginjal juga termasuk “silent disease” karena baru menimbulkan gejala ketika sudah berada pada stadium lanjut.

“Sebelum gejala muntah-muntah itu timbul, saya memang tidak merasakan keluhan fisik yang berat. Makanya waktu divonis menderita gagal ginjal dan harus menjalani cuci darah (hemodialisis), saya benar-benar kaget dan hampir tidak percaya,” ucap Anwar.

Cuci Darah dengan Kartu BPJS Kesehatan

Ketidaktahuan Anwar mengenai pentingnya cuci darah bagi penderita gagal ginjal sempat membuat dia ragu melakukan terapi ini. Ketika kondisinya sedikit membaik, dia bahkan lebih memilih kembali ke rumah, berharap pengobatan alternatif bisa menyembuhkan penyakitnya itu.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Kondisi fisik Anwar semakin melemah. Obat-obatan herbal yang diminumnya tak memberikan pertolongan apa-apa. Dia semakin terjebak dalam kondisi yang kritis.

Atas bujukan istri dan anak-anaknya, awal Januari 2015 akhirnya Anwar bersedia menjalani cuci darah di RS PGI Cikini, Jakarta. Kebetulan rumah sakit tersebut merupakan salah satu provider BPJS Kesehatan yang melayani cuci darah. Anwar dan istrinya juga sudah terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan golongan Penerima Bantuan Iuran (PBI).

Namun keragu-raguan itu kembali memuncul sesaat sebelum operasi pemasangan double lumen di dada. Anwar rupanya masih berharap penyakitnya itu bisa disembuhkan tanpa harus menjalani cuci darah. Padahal dokter di rumah sakit sudah berkal-kali mengingatkan kalau dia harus segera menjalani terapi tersebut.

Anwar akhirnya memilih pulang untuk kedua kalinya. Namun ketakutannya itu justru membuat kondisi penyakitnya semakin parah. Bahkan fungsi ginjalnya saat itu hanya tinggal enam persen saja. Nyawanya hampir tak bisa tertolong lagi.

“Saya pikir masih kuat tanpa harus menjalani cuci darah. Ternyata fisik saya malah makin drop. Mata saya bahkan sampai memerah seperti dipenuhi darah. Sempat terfikir, apakah nyawa saya masih bisa tertolong?,” ungkap Anwar.

Tidak ingin kelalaiannya itu semakin mengancam nyawanya, Anwar memantapkan diri untuk sesegera mungkin menjalani cuci darah. Saat keberanian itu muncul, prosesnya ternyata juga tidak rumit. “Pagi hari masuk rumah sakit, siangnya operasi pemasangan double lumen, dan sorenya langsung cuci darah,” ujarnya. Sebagai peserta BPJS Kesehatan, Anwar merasa sangat dimudahkan.

Biaya yang harus dikeluarkan tiap kali cuci darah sebetulnya sekitar Rp 900.000. Namun sebagai peserta BPJS Kesehatan, pelayanan tersebut bisa didapatkan Anwar secara gratis. “Saya menjalani cuci darah di RS PGI Cikini tiga kali seminggu tanpa perlu mengeluarkan uang. Kecuali kalau saya meminta pelayanan lain di luar yang ditanggung,” terang dia.

Ajak Keluarga Daftar BPJS Kesehatan

Pelayanan kesehatan yang didapatkan Anwar sebagai peserta BPJS Kesehatan memang sangat membantunya dan juga keluargaya. Apalagi sudah lebih dari 10 tahun Anwar pensiun dari pekerjaanya di perusahaan kargo.

“Kalau tidak jadi peserta BPJS Kesehatan, entah dari mana saya harus membayar biaya cuci darah yang sangat mahal dan seumur hidup. Saya benar-benar tertolong oleh BPJS Kesehatan,” tandasnya.

Karena sudah merasakan banyak manfaat dari program JKN yang dijalankan BPJS Kesehatan, Anwar juga mengingatkan anak-anak dan menantunya untuk segera mendaftar jadi peserta BPJS Kesehatan secara mandiri. Hal ini menurutnya sangat penting sebagai langkah antisipasi sebelum terkena penyakit.

“Siapapun tidak ada yang mau sakit. Tetapi kalau sudah jadi peserta BPJS Kesehatan, istilahnya kita sudah ada yang menjamin. Anak-anak dan menantu saya sekarang juga sudah jadi peserta BPJS Kesehatan,” ungkapnya.

Setelah menjalani cuci darah, Anwar mengaku kondisinya juga sudah berangsur membaik. Gejala awal yang sempat dirasakan kini tidak muncul lagi. Ia juga mulai bisa melakukan aktivitas harian tanpa bantuan istri dan anak-anaknya. “Sebetulnya juga sudah bisa naik motor, tapi sama anak-anak masih dilarang,” ujarnya.

Saat ini, Anwar juga sudah berada dalam tahap pasrah menerima takdir yang digariskan Tuhan. Dia tak lagi menganggap masa tuanya telah “dirampas” oleh penyakit gagal ginjal kronis, meski harus menjalani pengobatan seumur hidup “Menerima takdir adalah kunci terbaik menghadapi penyakit ginjal. Apalagi pengobatan penyakit ini harus dijalani seumur hidup. Fokus saya saat ini adalah disiplin menjalani pengobatan, karena untuk biaya sudah ditanggung BPJS Kesehatan,” pungkas Anwar